Bank BCA (Bank Central Asia) merupakan bank swasta terbesar di Indonesia, dengan berbagai fitur dan layanan perbankan modern. Salah satu bank swasta yang memiliki jaringan pelayanan paling canggih serta mendapatkan kepercayaan masyarakat yang tinggi.
Namun tidak berlangsung lama, dengan pengambilan keputusan dan kebijakan yang tepat, Bank BCA mampu bangkit kembali dan melakukan recovery pada tahun yang sama. Aset bank mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp 53,36 triliun menjadi Rp 67,93 triliun. Pada tahun 2000, Bank BCA diserahkan ke Bank Indonesia oleh BPPN. Pada tahun yang sama, bank tersebut mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, dengan penjualan saham sebesar 22,55% dari divestasi BPPN. Divestasi BPPN kembali dilakukan pada tahun 2001, yaitu sebesar 10%. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 2002, Badan Penyehatan Perbankan Nasional kembali melepas kepemilikan sahamnya sebesar 51% melalui tender penempatan privat. Tender tersebut dimenangkan oleh Farindo Investment, Ltd.
Dalam tahun 2002, BPPN melepas 51% dari sahamnya di BCA melalui tender penempatan privat yang strategis. Farindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius, memenangkan tender tersebut. Saat ini BCA terus mengembangkan diri dengan pengelolaan perusahaan yang kokoh, serta berpegang pada prinsip kepatuhan regulasi, pengelolaan resiko yang baik, serta layanan nasabah berkualitas.
Sejarah Bank BCA
Bank BCA didirikan pada tanggal 21 Pebruari 1957. Pertama kali didirikan, perusahaan perbankan ini bernama Bank Central Asia NV. Pada tahun 1997, saat krisis monete melanda Indonesia, Bank BCA mengalami masa-masa sulit, seperti halnya bank-bank lain di Indonesia, akibat terjadinya penarikan dana tunai dari nasabah. Situasi perbankan pada waktu itu semakin memburuk, akibatnya pada tahun Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) terpaksa mengambil alih kepemilikan beberapa bank yang terkena dampak krisis moneter tersebut, termasuk Bank BCA.Namun tidak berlangsung lama, dengan pengambilan keputusan dan kebijakan yang tepat, Bank BCA mampu bangkit kembali dan melakukan recovery pada tahun yang sama. Aset bank mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp 53,36 triliun menjadi Rp 67,93 triliun. Pada tahun 2000, Bank BCA diserahkan ke Bank Indonesia oleh BPPN. Pada tahun yang sama, bank tersebut mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, dengan penjualan saham sebesar 22,55% dari divestasi BPPN. Divestasi BPPN kembali dilakukan pada tahun 2001, yaitu sebesar 10%. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 2002, Badan Penyehatan Perbankan Nasional kembali melepas kepemilikan sahamnya sebesar 51% melalui tender penempatan privat. Tender tersebut dimenangkan oleh Farindo Investment, Ltd.
Dalam tahun 2002, BPPN melepas 51% dari sahamnya di BCA melalui tender penempatan privat yang strategis. Farindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius, memenangkan tender tersebut. Saat ini BCA terus mengembangkan diri dengan pengelolaan perusahaan yang kokoh, serta berpegang pada prinsip kepatuhan regulasi, pengelolaan resiko yang baik, serta layanan nasabah berkualitas.